Gelar Batik Nusantara 2015 Menampilkan Kekayaan Batik Indonesia

GBN2015-19

Ditahun ke-9 Gelar Batik Nusantara 2015 (GBN) kembali diselenggarakan, pada hari rabu (24/6) di JCC Senayan Jakarta, acara dibuka oleh Jusuf Kalla Wakil Presiden Republik Indonesia.

Selesai dibuka oleh wakil presiden, GBN 2015 menampilkan parade busana batik dari berbagai designer ternama Indonesia, parade tersebut memperlihatkan kepada khalayak luas bahwa batik bisa dipakai keberbagai acara seperti pernikahan, ulang tahun, makan malam, arisan, kepantai, kepasar dan batik tidak harus dipakai kalangan orang tua saja, batik bisa dipakai semua kalangan termasuk untuk anak muda.

GBN2015-17

Tampil para model hingga Puteri Indonesia, mereka yang ikut dalam parade tersebut ada Chintya Fabyola (Puteri Indonesia Lingkungan 2015), Gresya Amanda Maaliwuga (Puteri Indonesia Pariwisata 2015), Laras Maranta (Top 5 Puteri Indonesia 2015), Riri, Caroline Noge, Rebeka Steven dan Marisa Sartika. Sementara itu Anindya Kusuma Puteri Indonesia 2015 juga hadir namun tidak ikut dalam parade busana batik, Anin hadir saat press conference GBN 2015, karena Anin di tunjuk menjadi Duta Batik untuk anak muda Indonesia. Dan ada juga Tatya Almira Top 7 Miss Indonesia 2014.

GBN2015-20

Untuk pameran batiknya GBN 2015 selain menampikan batik dari berbagai daerah di Indonesia, juga diperlihatkan koleksi batik dari Ibu Ani Yudhoyo, isteri mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

Banyak agenda yang bisa dikunjungi pengunjung di GBN 2015 antara lain ada simposium, talkshow, live musik dan fashion show. Untuk fashion show akan menampikan 14 designer ternama Indonesia mereka diantaranya ada, Danar Hadi, Parang Kencana, Carmanita, Ghea Panggabean, Canting Madura, Nes, BI, Didiet Maulana, Barli Asmara, Lenny Agustin, Dian Pelangi, Tayada, Nita Seno Adji dan Wignyo Rahadi.

Gelar Batik Nusantara 2015 tidak lupa memberikan apresiasi penghargaan kepada delapan orang pengerajin batik berprestasi yang sampai sekarang masih mengeluti dunia batik, berikut biodata singkat penerima penghargaan GBN 2015.

GBN2015-5

1. Larasari Suloantoro Sulaiman

Seorang insinyur Pertanian dan Universitas Gajah Mada, dan juga lulusan Fakultas Filsafat dari Universitas yang sama. Berbagai penghargaan telah diterimanya, antara lain UPAKARTI, KALPATARU dan SATYA LENCANA PEMBANGUNAN dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan Seni Kerajinan dari Gubernur DIY, dan Abdi Karya Pariwisata dari Menteri Parpostel.

Beliau menggagas kegiatan perbatikan diberbagai daerah dan mendorong pembentukan Paguyuban Pecinta Batik di Pekalonganga, Kebumen, Tegal, Semarang, Purworejo, Batang dan Jepara. Selain itu beliau terlibat berbagai kegiatan dalam perbatikan seperti pelatihan-pelatihan batik, pendirian berbagai museum termasuk Museum Batik Imogiri, menjadi pembicara diberbagai seminar dan konperensi, dan menjadi pendorong pemakaian zat pewarna alam.

Beliau ikut serta dalam penyusunan risalah pengajuan batik sebagai Pusaka Dunia UNESCO dan penetapan Yogyakarta sebagai World Craft City of Batik oleh World Craft Council (WCC).

2. Afif Syakur

Generasi ke-4 pengerajin batik asal Pekalongan yang telah berkecimpung dalam dunia batik sejak kecil. Ketertarikan terhadap eksotisme batik dan semangat untuk melestarikan salah satu karya luhur bangsa ini telah mendorong Afif Syakur untuk mengolah pemikiran-pemikiran baru dalam pengembangan batik. Dia adalah seorang perancang sekaligus seniman batik yang konsisten dan telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan batik ditanah air.

Sejak tahun 2001 telah mengadakan dan mengikuti berbagai pameran di Luar Negeri, antara lain di Jepang, Malaysia, Italia, Spanyol, Singapore, Republik Ceska, Portugal, Yunani, Ekuador, Peru, Tiongkok, Australia, Ukraina, Rumania, Thailand, Serbia, Belanda dan negara-negara lainnya.

Selain itu Afif Syakur juga aktif berpartisipasi dalam penerbitan buku, seperti buku The 20th Country Batik Masterpieces, buku Batik Indonesia Mahakarya Penuh Pesona dan perusahaan Standar Nasional Indonesia/SNI tentang pembatikan.

3. Saodah

Ibu yang menurut pengakuannya berusia 100 tahun ini masih aktif membatik di rumahnya. berpenampilan riang dan pendengarannya masih tajam. Ia membatik sejak berumur 10 tahun, dan sekarang masih melakukan pekerjaannya tanpa menggunakan kacamata.

Beliau bernama Ibu Saodah Ja’i tinggal di Desa Tanjungsari, Kecamatan Sawalan, Kabupaten Pekalongan.

4. Surajiem

Pembatik keraton Yogyakarta Hadiningrat bukan abdi dalam yang lahir tahun 1961, dan telah membatik sejak usia 6 tahun sampai sekarang (48 tahun). Pernah dikirim ke negara Jepang dan Tiongkok untuk mendemonstrasikan membatik. Keahliannya membatik keratonan terutama motif parang dan cecek halus.

5. Suryati

lahir tahun 1959 dan tinggal di Yogyakarta, memnatik sejak usia 14 tanun sampai sekarang (42 tahun), sebagai pembatik keraton Yogyakarta Hadiningrat. Belajar membatik dari ibunya yang sekarang berusia 80 tahun, dan kadang-kadang masih membatik. Spesalisasi batik halus keratonan. Beberapa kali dikirim ke Jepang untuk mendemonstrasikan membatik.

6. Sukanta

Tinggl di Desa Trusmi Kulon, Plered Cirebon. Lahir tahun 1940 dan membatik sejak usia 8 tahun sampai sekarang (67 tahun). Keahliannya merengreng dengan canting ukuran 0. Pada saat ini beliau adalah pembatik tertua di Plered Cirebon.

7. Siti Zaenab

Lahir tahun 1957 di Batang dan tinggal di Jalan Joko Tingkir Pekalongan. Memulau membatik sejak usia 15 tahun sampai sekarang (43 tahun). Berasal dari keluarga pembatik. Keahliannya menggunakan canting terkecil yang dipipihkan (canting ukuran 0-minus) untuk membatik detail tanahan.

8. Zubaedah

Tinggal di desa Degayu Pekalongan Utara, lahir pada tahun 1960. Memnatik sejak usia 14 tahun sampai sekarang (40 tahun). Belajar membatik dari orang tuanya. Keahliannya saat ini membatik detail tanahan dan motif-motif khusus yang halus dengan canting ukuran terkecil (canting ukuran 0).

Gelar Batik Nusantara yang ke-9 ini diselenggarakan oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI), YBI dibentuk pada 28 Oktober 1994, diprakrasai oleh Ibu Jultin Ginandjar Kartasasmita, ide ini berawal atas dasar kegelisahan beliau dengan batik Indonesia yang pada saat itu mulai banyak diakui batik sebagai milik budaya negara asing, maka dari itu perlu diadakannya langkah perlindungan, pengakuan dan penghargaan dinegara sendiri.

(is)

Comments

comments