Cerita Komunitas Indonesian Pageants dimuat dalam Koran Tempo

1509644_300192040129745_1065493343_n

Bertempat di foodcourt Sarinah, Thamrin (27/3), Koran Tempo mewawancarai Indonesian Pageants yang diwakili oleh salah satu founder, Mukie dan teman-teman Indonesian Pageants lainnya. Sebelumnya Koran Tempo menghubungi Indonesian Pageants untuk wawancara seputar komunitas dan pemerhati pageants di Indonesia. Kami sangat menyambut baik tawaran tersebut. Berikut artikel yang dimuat oleh Koran Tempo edisi Ahad, 30 Maret 2014:

Indopageants: Tim Sukses Ratu-ratuan

downloadDi balik setiap pria sukses, ada seorang wanita yang kuat dan mendukungnya. Di balik seorang ratu kecantikan, ada serombongan suporter yang memberi dukungan dan kritik. Mereka adalah penggemar sekaligus pengamat kontes-kontes kecantikan di Indonesia dan internasional. Menamakan diri sebagai Indopageants, komunitas ini aktif sejak 2004.

Nyaris 10 tahun berdiri, komunitas ini tidak hanya menjadi pendukung, tapi juga semacam penasihat wakil-wakil Indonesia dalam kontes ratu-ratuan, dari Miss Universe, Miss World, Miss Earth, hingga ajang adu ganteng bagi para pria sejagat, Mister International. Mereka juga pengamat setia kontes semacam Puteri Indonesia, Miss Indonesia, ataupun L-Men of The Year.

Sehari-hari mereka terhubung oleh Internet dan sekitar tiga bulan sekali komunitas ini rutin menggelar pertemuan. Kegiatannya pun tentu tidak jauh dari diskusi seputar pageant. Kegiatan lainnya-dan ini biasanya wajib-ikut menyaksikan kontes-kontes kecantikan itu. “Untuk Puteri Indonesia tahun lalu, kami mendapat 50 tiket untuk menonton,” kata pengurus Indopageants, Mukie Dardjati Muza, 29 tahun, kepada Tempo.

Jumlah anggota komunitas ini dalam forum online mencapai ribuan orang. Mereka yang tinggal di berbagai kota ini aktif memberikan informasi seputar kegiatan para duta di wilayah mereka-seperti Abang-None di Jakarta, Cak dan Ning di Surabaya, dan Mojang-Jajaka di Bandung. Mereka juga aktif menyumbang bahan tulisan ke website Indopageants. Selain website, Indopageants hanya aktif melalui akun Twitter dan juga Facebook.
394713_348343118577853_1847338367_n

Apa yang membuat mereka membentuk komunitas ini? “Awalnya sih iseng, saya dan dua teman saya memang suka mengamati kontes-kontes kecantikan, dan kalau bisa ingin bertemu dengan pemenangnya,” kata Mukie. Satu dekade lalu, kontes kecantikan lokal-saat itu hanya ada Puteri Indonesia-sama sekali tidak dianggap penting, dan minim perhatian.

Karena itulah perhatian Mukie dianggap aneh. “Dulu, teman-teman satu kos saya di Bandung suka tanya, ‘Ngapain sih lo ngedit-ngedit foto Puteri Indonesia, menambah banner sampai begadang segala di warnet?’,” kata Mukie, yang saat itu berkuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung. Dia tidak menghiraukan kata-kata temannya itu dan justru berupaya untuk melacak teman-teman dengan hobi serupa. Mukie bertemu dengan Nur Koswara dan Bayu Asmara, yang lebih dulu mengenal dunia pageant. Mereka lalu menyebarkan informasi seputar ratu kecantikan ini dalam thread khusus di sebuah situs milik stasiun televisi yang menayangkan acara Puteri Indonesia.

65930_1510243869776_2545525_n

Pada 2005, Puteri Indonesia Artika Sari Devi sukses menembus 15 besar kontes Miss Universe di Thailand. Prestasi Artika saat ini membuat banyak orang mulai mencari informasi tentang Puteri Indonesia. Mukie menganggap informasi yang disebar lewat thread tidak mencukupi lagi. Mukie lalu membuat web dengan alamat “NewMissIndonesiaUnofficial”-sebelum berubah menjadi Indonesia Pageants.

Pada 2005, Mukie, Bayu, dan Nur diundang dalam pertemuan perdana perkumpulan Puteri Indonesia bernama Miss Indonesia Club. Dalam perkumpulan yang diketuai oleh Puteri Indonesia 2001 Angelina Sondakh itu, Mukie berhasil bertemu dengan para pemenang kontes ratu-ratuan tadi, termasuk Artika Sari Devi dan Nadine Chandrawinata, yang saat itu baru saja menang kontes. “Namanya juga anak kuliahan, dan bisa ketemu dengan idola, senang banget,” ujar dia.

Sejak saat itu, web yang dikelola oleh Mukie dan kawan-kawan mulai dianggap serius oleh para pemenang dan penyelenggara kontes. Mereka bahkan diajak untuk bertemu oleh Yayasan Puteri Indonesia (YPI) selaku penyelenggara. Dari perkenalan dengan pihak YPI, Mukie dan kawan-kawan mulai memberikan masukan ataupun kritik bagi para wakil Indonesia di perhelatan internasional. Contohnya, saat Nadine mewakili Indonesia dalam kontes Miss Universe 2006 di Amerika Serikat. “Saat kami lihat make-up-nya terlalu tebal, ada salah satu dari kami yang mengirim e-mail atau bahkan menelepon Nadine dengan difasilitasi oleh YPI,” kata Mukie.

1275553_4797704159842_595589634_o

Dua tahun belakangan, Indopageants bahkan terlibat dalam pembekalan finalis Puteri Indonesia ataupun para pemenangnya sebelum berlaga di Miss Universe. Tentu saja mereka tidak asal-asalan mengkritik para duta itu. “Kami mengkritik berdasarkan pengamatan kami terhadap para kontestan dan kontes itu sendiri setiap tahun,” kata Mukie.

Saling menjagokan kandidat ratu kecantikan menjadi bumbu pertemanan dalam komunitas ini. Sering kali mereka berantem karena beda pendapat soal putri yang layak untuk menang. “Damainya mungkin kalau sudah ketemu langsung,” kata Mukie.

Lantas, apa yang mereka dapat dengan menjadi pengamat kontes ratu-ratuan? “Banyak, tergantung minat masing-masing,” kata Mukie. Bagi Mukie secara pribadi, menjadi pengamat kontes membuat dia tidak lagi jadi pemalu. “Dulu, saya itu susah sekali untuk ngomong sama orang di depan umum,” kata dia. Lain lagi dengan Toma. Menjadi pengamat kontes justru membuat dia terpacu untuk memperhatikan penampilan. “Gara-gara liat L-Men dan mengkritik, saya jadi terpacu untuk membenahi penampilan,” ujar dia.

Bagi Irwansyah, aktif di komunitas ini bermanfaat untuk menambah jaringan. Ia kini biasa mengirim pesan pendek kepada para ratu kecantikan. “Setiap hari saya WhatsApp mereka satu-satu, absen, bertanya soal kegiatan mereka hari itu,” kata dia sambil nyengir. “Mengabsen” para duta itu mungkin tidak pernah terbayangkan oleh Irwansyah sebelumnya.

Anggota komunitas lainnya, Anaz Khairunnas, juga berhasil menemukan jalannya untuk menjadi desainer pakaian. “Waktu itu, Anaz ingin sekali baju rancangannya dipakai di ajang Miss Universe,” kata Mukie. Belakangan, impian itu bisa terwujud karena Puteri Indonesia 2013 Whulandary Herman memakai rancangan Anaz di Rusia.

Komunitas ini bahkan mulai dianggap semakin serius. Salah satu pendiri komunitas ini, Nur Sasongko, diminta untuk menjadi juri dalam pemilihan Puteri Indonesia. Tawaran untuk memegang lisensi kontes kecantikan juga datang ke komunitas ini. “Tapi kami tolak, karena tidak punya kemampuan dari segi finansial.”

Yang pasti, komunitas ini sepakat bahwa kontes kecantikan adalah sesuatu yang kejam, dan perwakilan Indonesia harus siap tempur menampilkan perjuangan terbaik mereka. Untuk itu, komunitas ini tidak segan mengkritik penampilan para duta jika kedapatan berpenampilan buruk.SUBKHAN

1941327_10202407584444371_537990904_o
IP Team bersama wartawan dari Tempo

artikel by Tempo: http://koran.tempo.co/konten/2014/03/30/338545/Indopageants-Tim-Sukses-Ratu-ratuan

Comments

comments