Yenni Sebayang Bawa Kain Indonesia Timur Ke Nasional Hingga Internasional

iIIDW201511

Berawal dari kenangan masa kecil yang tak bisa dilupakan begitu saja, bersama sang bunda yang mengenalkan kain tradisional kepadanya, kain nusantara yang terlilit melingkar anggun ditubuhnya pada waktu itu. Kenangan itulah yang menginspirasinya untuk mengangkat kain nusantara keranah nasional hingga internasional.

Yenni Sebayang wanita berusia 31 tahun, penggagas Indonesian Inspiring Women Day 2015, bertempat di Klub Kelapa Gading, kamis (28/5) membuka acara IIDW 2015, selain itu hadirnya juga Imelda Fransisca Miss Indonesia 2005, Gusnaldi Makeup Artist, Vera Anggraini Designer Kebaya dan dipandu host Christian Reinaldo.

IIWD 2015 mengusung tema “Delivering Indonesian Premium Textile For Everyone”, pada tahun pertamanya ini, Yenni Sebayang ingin mengajak wanita Indonesia mengenal lebih dekat kain tradisional dari Indonesia Timur, seperti dari daerah Samarinda, Sambas, Manado, Bali, Bima, Kupang, Lombok, Ternate hingga Flores ia hadirkan dalam bentuk booth yang bisa dilihat para hadirin yang hadir diacara tersebut.

Beragam warna warni kain nusantara dengan warna yang cerah, motif yang khas dari daerah masing-masing, terlihat jelas akan ragam dan kayanya kebudayaan Indonesia dan dihadirkan secara langsung seorang pengerjain dibooth tersebut dengan mempraktekan langsung kepada pengunjung bagaimana proses menenun.

Apalagi para pengerajin kebanyakan orang yang sudah sangat tua, mereka dengan teliti memilih warna, benang, memintal dan menenun, dan itu dilakukan disela-sela kesibukan mereka sebagai seorang isteri dan mengurus rumah tangga.

Kekuatan inilah yang membuat Yenni Sebayang makin termotivasi bahwa kain tradisional Indonesia Timur akan banyak diminati dan dilirik masyarakat Indonesia hingga Internasional, selain itu motif yang mereka hadirkan ada makna dan arti tersendiri disetiap daerah.

Menenun yang dilakukan pengerajin rumahan tersebut, terkadang sangat miris saat proses jual beli dilakukan, kadang ada yang ga tega menawar kain tersebut dengan harga murah.

“Saya saja tadi main kebeberapa booth, ga tega ingin menawar selembar kain, karena saya tahu proses dibalik membuatnya itu butuh ketelitian dan menjadi satu kain itu bisa butuh beberapa bulan, karena itu selembar kain bisa sejutan harganya” ujar Gusnaldi Makeup Artist yang juga mengoleksi kain nusantara. Gusnaldi sendiri juga makin cinta dengan kain nusantara dan menjadikan inspriasinya dalam hal mengeluarkan trand makeup selanjutnya.

Bagi designer kebaya Vera Anggraini, keikutserataanya di IIDW 2015 adalah selain cinta dengan kain nusantara ia juga bisa mengaplikasikan kain tersebut kepada kebaya hasil rancangannya.

“Kain tradisional ini motifnya sangat bagus dan bisa dipadupadankan dengan kebaya, serta bisa dipakai keberbagai acara baik itu formal maupun non formal”.

Sementara itu Imelda Fransisca Miss Indonesia 2005 mengatakan bahwa, kecintaannya kepada kain tradisional berawal dari terpilihnya ia menjadi Miss Indonesia dengan menjalankan tugas berkeliling nusantara dan makin mengenal lebih dekat.

Dipenghujung seminar dan Indonesian Inspiring Women Day 2015, Yenni Sebayang juga mengharapkan regenerasi anak muda mencintai kain tradisional, khususnya bagian Indonesia Timur harus mau dan tetap mempertahankannya. Dibandingkan lebih mengejar menjadi urbanisasi ke Ibukota.

“Iya saya juga berharap anak muda lebih mencintai dan melestarikannya, dengan adanya IIDW 2015, saya ingin mereka bisa bekerja didaerahnya masing-masing, karena dengan menenun juga bisa membuka lapangan kerja dan regenerasi menenun tidak akan putus”.

(is)

Comments

comments