Opening Fashion Festival JFFF 2015 Dibuka Dengan Kebaya Nusantara

JFFF2015-nusantara

Kebaya Nusantara menghadirkan designer Adjie Notonegoro dan Marga Alam, serta kebaya khusus dari G.RAy Retno Satuti Yamin Suryohadinigrat dan Mien R. Uno, kebaya-kebaya mereka memukau hadirin yang hadir di Ballroom Hotel Haris, rabu (20/5).

Adjie Notonegoro menghadirkan kebaya dari berbagai nusantara, kebaya encim, kebaya Bali, Belitung, batik Marunda, ditambah dengan padupadan batik prada dan ada satu kebaya unik, khusus ia buat dengan aplikasi mutiara berjuntai hingga terlihat mewah siapapun yang memakainya. Sedangkan Marga Alam menghadirkan padupadan kebaya dengan kain nusantara ada batik dan tenun, untuk warna dari pastel hingga warna warni.

Sejarah Kebaya memiliki cerita yang menarik, menurut catatan sejarah “Kebaya” berasal dari bahasa Arab, Tiongkok dan Portugis, dan menurut sejarawan Denys Lombard, kata kebaya berasal dari bahasa Arab “kaba”, yang artinya pakaian

Sejarah kebaya bermula pada abad ke-15 Masehi. Saat itu, kebaya merupakan busana khas perempuan Indonesia, terutama perempuan Jawa. Busana ini terdiri atas baju atasan yang dipadu dengan kain. Pada pertengahan abad ke-18, ada dua jenis kebaya yang banyak dipakai masyarakat, yakni kebaya Encim, busana yang dikenakan perempuan Cina peranakan di Indonesia, dan kebaya Putu Baru, busana bergaya tunik pendek berwarna-warni dengan motif cantik.

Sementara itu kedua wanita pemerhati dan pecinta kebaya G.RAy Retno Satuti Yamin Suryohadinigrat adalah putri dari Mangkunegaran VIII, Raja Keraton Mangkunegaran Solo yang juga menantu dari Muhammad Yamin salah satu Bapak Bangsa Indonesia, sebagai seorang putri solo, ia menghadirkan kebaya khas wanita jawa, dengan warna warni, motif bunga, kain batik, selendang dan sasakan konde.

Bagi Mien R. Uno kebaya adalah ciri khas busana Indonesia, kalau di jepang ada Kimono, China , Korea. Maka di Indonesia perempuannya dikenal memakai kebaya, pada show Kebaya Nusantara JFFF 2015 ia menghadirkan berbagai kebaya yang ia koleksi bahkan ada yang berusia 40 tahun, koleksinya beragam dari Chossy latu, Edward Hutabarat hingga Iwan Tirta.

Diusianya yang sebentar lagi beranjak 73 tahun (kelahiran 23 Mei 1941) masih terlihat cantik, gesit dan anggun, karena kecintaannya kepada Kebaya Nusantara, ditahun 2014 ia membuat buku KebayaKu dan dilirik oleh Library of Congress Amerika Serikat, sebagai acuan orang Amerika untuk mempelajari Kebaya Indonesia.

(is)

Comments

comments