Exclusive Interview : Delvia Wirajaya pemenang Best National Costume Miss Tourism Queen of the year International 2015

delvia-wirajaya

Sepekan yang lalu pada hari rabu (6/1) bertempat di kantor Eljohn Pageants, selain bertemu dengan Yovita Iskandar 1st runner up Miss Earth Indonesia 2015, IP juga berjumpa dengan peraih Best National Costume Miss Tourism Queen of the year International 2015 dan juga 1st runner up Putri Pariwisata Indonesia 2015 Delvia Wirajaya.

Dalam kesempatan tersebut Delvia banyak ngobrol dengan IP seputar kegiaatannya mengikuti Miss Tourism Queen of the year International 2015.

IP : Hallo Delvia apakabar
Delvia : Baik IP

IP : Selamat ya sudah menang Best National Costume, bisa diceritakan mengenai perjalanan kamu saat ikut kompetisi tersebut.
Delvia : Terima kasih IP, mau mulai darimana nih, ok National Costume ya. Sesuai pemilihan Putri Pariwisata Indonesia 2015, aku langsung mulai bertugas kekantor eljohn dan kementrian pariwisata. Sebelum berangkat aku kemalang buat fitting National Costume dari designer Agus Sunandar Malang Fashion Movement. H-1 mau berangkat aku sampai sedih IP.

IP : Kenapa?
Delvia : National Costume aku belum dikirim, designernya janji mau nganterin sendiri, harusnya sorenya sudah sampai dari Malang, tapi karena pesawatnya tertunda terpaksa beliau naik pesawat dari Surabaya, jam 10 malam sampai di Jakarta jam 1 subuh, aku langsung fitting diajarin cara masang jangan sampai salah pasang. Besok paginya langsung terbang ke Malaysia. Mau tahu kelanjutannya.

IP : Mau donk, terus sesampainya di Malaysia apa yang kamu lakukan.
Delvia : Aku kirain bisa rehat sejenak, malah disuruh photoshoot evening gown dan national costume, berlanjut malam harinya tapping profile, aku kirain sudah beres, eh panitia ngabarin kalau photoshoot national costume aku kurang bagus dan mereka minta photoshoot ulang.

IP : Wah sibuk banget ya dihari pertama karantina
Delvia : Iya IP, malam harinya mau tidur aku ga dapat tempat, aku bertiga sekamar dengan Malaysia dan Mongolia.

IP : Apa yang kalian obrolin
Delvia : Apa ya, yang pasti apa saja seputar karantina dan mereka baik-baik, apalagi Mongolia yang bolak balik ikut pageants tahun 2014 pernah ikutan Miss World, setiap 2 tahun sekali ikutan pageants, dia paham apa yang harus dilakukan.

IP : Veteran Pageants dong
Delvia : Iya, ikut terus dan dia pasang target harus masuk jajaran top finalis.

IP : Dan terbukti dengan masuk Top 12, ko bisa?
Delvia : Itulah anehnya sebelumnya ada Top 20, lalu dikabarkan hanya masuk Top 10 dan malam final berubah jadi Top 12.

IP : Rancu ya, bagaimana dengan wakil tuan rumah,  Malaysia.
Delvia : Iya, hemm … Tuan rumah, waktu itu kami didalam kamar sempat berdiskusi dengan membuat list siapa aja yang masuk jajaran top finalis, dia (Malaysia) tanya ke aku siapa saja yang masuk, aku bilang kamu dan Mongolia, dia kaget dan bertanya kenapa aku.

IP : Lalu apa jawabannya
Delvia : dia cuma bengong saat aku bilang, “kamukan host country, pastilah masuk”.

IP : Bagaimana dengan peserta yang lainnya
Delvia : Mereka baik-baik tapi ada kejadian aneh semua finalis kena penyakit gatel-gatel merah gitu, sedangkan aku dan Malaysia ga kena.

IP : punya pengalaman yang tak terlupakan ?
Delvia : Saat perasaan Natal, aku sedih dimana saat itu lagi masa karantina belum pernah merasakan dinegara lain, sendiri lagi, dengan kondisi hidung lagi pilek dan batuk, waktu itu kami dibagi dua group merah dan biru, aku ada digroup merah dengan challenge mewarnai, kami juara, hebatnya lagi kami boleh makan makanan yang tidak ada dihotel, makan KFC dengan cheprone puas banget, 1 hamburger, 2 ayam dan Pepsi. Udah ga ingat lagi dikarantina.

IP : Ada punya pengalaman seru ga dengan finalis lainnya.
Delvia : Ada, salah satunya Miss Georgia, dia dijuluki Miss Complain, apa-apa mengeluh soal makanan dan karantina, julukannya banyak, Miss Telat saat kelas pembekalan suka masuk paling akhir dan satu lagi Miss Lelet.

IP : Banyak amat julukannya, Miss Complain, Miss Telat dan Miss Lelet, ko bisa
Delvia : ya Itulah dia, pernah kejadian kita (all finalis) mau berangkat naik bus, eh Miss Georgia ga ada didalamnya, semua heboh dan cheprone cariin kemana-mana, ga taunya lagi beli coklat.

IP : punya kesan ga dengan genk Latinas
Delvia : Itu apalagi banyak, mereka selalu berkelompok, dan kebanyakan ga bisa bahasa Inggris, ada kejadian saat wakil Spanyol bilang ke aku kalau dia pakai gelang yang sama denganku, karena ga bisa komunikasi akhirnya pakai bahasa isyarat, dia nujukin gelang yang aku pakai sama dengan punya dia.

IP : Bagaimana dengan cheprone dan panitia setempat
Delvia : Cheprone dan panitia baik banget, chepronenya suka heboh, kalau ngasih jadwal sambil pakai bahasa isyarat, contohnya besok ada sesi photoshoot, langsung pose dan gaya, kami maklum karena banyak finalis terkendala bahasa.

IP : Bagaimana dengan makanan
Delvia : aku sih oke-oke aja, walaupun kadang ga cocok dilidah, tapi jangan tanya Miss Georgia bawannya complain terus dan bilang makanan sampah.

IP : Selain genk latinas menurut kamu ada ga finalis yang sangat kamu unggulkan masuk jajaran top finalis.
Delvia : Belgium, menurut aku dia orangnya baik, ramah dan bisa ngemong. Pernah nasehatin Miss Georgia bahwa saat karantina mau makanan kurang enak, ya dimakan dari pada jatuh sakit. Aku favoritkan Miss Belgium masuk Top 12 sayangnya tidak.

IP : Dua hari jelang malam final IP dikabarin kalau Falentina Cotton 2nd runner up Miss South East Asia Tourism Ambassadress 2015 akan hadir dimalam final, pas malam final dia bilang lihat Delvia sibuk benerin National Costume yang longgar dengan baut.
Delvia : Waktu itu lagi dibackstage, suasananya gelap, aku lagi benerin sayap natcos, saat itu ada suara disebelah kanan teriak minta bantuin pasang bando, kalau ga salah dari Kenya. Aku bantuin bukan kasih ucapan terima masih, malah diomelin kurang maju dan kurang apalah, karena aku sibuk aku tinggalin langsung. Tetiba dari kejauhan aku dilihat Falentina Cotton untuk segera turun kepanggung.

IP : Dengan sayap segede itu keganggu ga dengan finalis yang lainnya.
Delvia : Banget, ga hanya malam final, waktu rehearsal aku selalu ditaruh posisi paling belakang, pas lagi turun panggung naik lagi maju kedepan, sayap atas nyapu lampu, semua finalis teriak, ahhhhhh, lagi jalan finalis yang berada dikanan dan kiri langsung melimpir kesamping, aku disuruh sama koreografer untuk dance, ku bilang ga mungkin yang ada semua finalis kesapu sama sayapku, ditawarin lagi joget kepalanya aja, kubilang yang ada head piece aku copot, sang koreografer ga percaya, ya udah aku lakukan dance sambil goyang kepala, bener aja semua finalis yang ada disamping aku kesapu dan head piece aku mau copot, he he he (IP dan Delvia tertawa bareng).

IP : Akhirnya gimana, sang koreografer tetap yakin atau udah nyerah.
Delvia : Nyerah dia IP, kaget lihat aksi aku, mulai saat itu aku ditaruh posisi akhir saat maju kedepan jalannya kaya kepiting (IP ketawa lihat Delvia peragain jalan kepiting), jalan nyamping pas didepan cuma dance tangan aja, terus ditaruh posisi paling kanan.

delvia-wirajaya

IP : Saat diumumkan sebagai pemenang Best National Costume, bagaimana perasaanmu saat itu.
Delvia : Itu ceritanya panjang, setelah kita dipanggung dan berada diposisi masing-masing. National Costume yang paling besar, Indonesia, India dan Thailand, posisi kami aku di kanan, India di kiri dan Thailand ditengah. Selesai parade aku kira sudah selesai lanjut pengumuman pemenang, ga taunya para pejabat naik panggung mengucapkan berbagai kata sambutan, durasinya lumayan lama hampir 1jam, karena aku, India dan Thailand National Costumenya besar kami kewalahan, India dari jauh aku lihat hampir mau pingsan, dalam hati tahan, tahan, tahan. Ga lama diumumkan pemenang Best National Costume,,,,, Indonesia, antara lega, kaget dan senang, sudah ga mikir lagi jalan blocking lupa, langsung aja kedepan lewat samping, finalis yang ada disamping kena sayapku.

IP : Bagaimana dengan suasana malam final dan pemenangnya dari Filipina.
Delvia : Ini yang aneh rata-rata yang masuk Top 12 itu, 3 bisa bahasa Inggris sisanya ga, sesi interview ada yang ga ditanyain apapun, diam aja, malah masuk Top 12 dan mereka (juri) melihat background finalis (pernah ikut diberbagai pageants), Filipina memang pantas menang, karena sudah mempersiapkan jauh-jauh hari dan dia ikut diberbagai pageants. Yang paling aneh saat Top 5 semua finalis mendapatkan pertanyaan yang sama, kecuali China, team translate ga bisa bahasa China, jadi apa yang diucapkan Miss China beda artinya, pas turun panggung dia yang binggung “pertanyaannya diganti ya”.

IP : Selain Best National Costume, apakah ada award yang lain Delvia dapatkan.
Delvia : Ada besok paginya kita kumpul lagi, aku diumumkan dapat Best Fashion.

IP : Ada piagam atau slempangnya
Delvia : Wah sayangnya ga ada, adanya voucher menginap hotel di Malaka 3 hari 2 malam.

Interview IP dengan Delvia Wirajaya berakhir sore itu, walapun baru terpilih sebagai 1st runner up Putri Pariwisata Indonesia 2015 diakhir bulan November 2015 dan 12 Desember 2015 dikirim ke Miss Tourism Queen of the year International 2015 dengan persiapan yang tidak banyak, IP salut Delvia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.

Delvia sendiri berharap jika nanti penerusnya yang baru dikirim ke ajang International tersebut, diperbanyak lagi persiapannya dan lebih matang.

(is)

Comments

comments