Mencari Hilal, Gagal Didalam Negeri Dilirik Diluar Negeri

Mencari Hilal

Kabar menggembirakan bagi insan perfilman Indonesia, datang dari Hanung Bramantyo, Ram Punjabi, Ismail Basbeth dan Putut Widjanarko, keempat orang yang berada dibalik pembuatan film Mencari Hilal, dalam press conference yang berlangsung hari selasa (29/9) di Multivision Tower Kuningan, Jakarta.

Mereka mengabarkan bahwa film Mencari Hilal berhasil masuk nominasi kategori Asian Future di Tokyo International Film Festival 2015, bersaing dengan 9 film dari berbagai negara Asian, diantaranya adalah The Actor (Jepang), The Crescent Moon (Indonesia), If Only (India), The Island Funeral (Thailand), The Kids (Taiwan), Lazy Hazy Crazy (Hongkong), Shoot Me in the Heart (Korea), A Simple Goodbye (Hongkong), Stair Dad (Turki) dan Young Love Lost (China).

Kabar bahagia ini menjadi angin sejuk bagi keempat produser film Hanung Bramantyo (Dapur Film), Haidar Baghir (Mizan Group), Denny JA (Studio Denny JA) dan Ram Punjabi (MVP Pictures), sebelumnya mereka mendapatkan 4 skenario film yang siap produksi dari ARGI Film (Salman Aristo), keempat skenario tersebut berjudul Wahyu Bola, Ayat-Ayat Adinda, Keluarga Rais dan Mencari Hilal, yang sudah diproduksi dan sudah tayang saat menjelang hari raya Idul Fitri 1436H adalah Ayat-Ayat Adinda dan Mencari Hilal, kedua film tersebut sama-sama berbiaya 3M dengan target penonton 250 ribu, sayangnnya saat terakhir pemutaranya digedung bioskop, Ayat-Ayat Adinda hanya mendapatkan 30 ribu penonton dan Mencari Hilal 12 ribu penonton.

kekecewan ini sangatlah beralasan bagi Ismail Basbeth yang ditunjuk langsung oleh Hanung sebagai sutradara film Mencari Hilal, baginya ada beberapa kemungkinan gagalnya film tersebut salah satunya adalah penonton Indonesia belum bisa menerima film bertemakan art atau seni, film yang sarat perenungan bukan film mengenai drama dan air mata yang selama ini menjadi primadona penonton Indonesia.

“Sepuluh ribu penonton buatku luar biasa. Karena biasanya film-filmku di tonton paling banyak hanya 600 orang”, jawabnya dengan optimis.

Mencari Hilal1

Kegagalan tersebut membuat sebagian insan perfilman mengalang dukungan seperti aktris Dian Sastro dalam akun instagramnya mengajak pengemarnya yang jutaan follower untuk menonton film Mencari Hilal, bahkan sutradara sekelas Garin Nugroho memberikan tanggapan bahwa, film yang harus ditonton dihari kemenangan menunjukan Islam yang terhormat.

Melalui Hide Project Film yang dimotori Ismail Basbeth, Suryo dan Cornelio Sunny, Mencari Hilal didaftarkan ketiga festival film dunia, Busan International Film Festival (Korea), Singapore International Film Festival dan terakhir di Tokyo International Film Festival yang berhasil masuk nominasi Asian Future.

Ismail Basbeth sendiri adalah sutradara muda yang memiliki keturunan Arab dari kakek yang berasal dari Yaman, sebelum membuat film panjang (biskop) Ismail 10 tahun yang lalu sudah banyak membuat film pendek, Mencari Hilal adalah film keduanya, sedangkan Menuju Rembulan (Another Trip to the Moon) adalah film panjang pertamanya.

Keyakinan kuatnya dalam membuat film Mencari Hilal, diilhami atas kejadian yang tidak mengenakan saat berada di Rotterdam, Belanda. Dimana saat itu ia berada ditempat imigrasi, dilihat dengan hati-hati dan dicurigai pihak imigrasi, ini dikarenakan wajah Arabnya, alasannya beberapa bulan yang lalu tersiar kabar di Eropa terjadi aksi penyerangan brutal oleh sekelompok orang, padahal Ismail sendiri seorang Muslim Indonesia, namun media luar negeri sudah mencap Islam sebagai teror.

Atas semangat itulah Ismail membuat film Mencari Hilal, biar dunia tahu bahwa Islam itu adalah agama yang penuh cinta, damai dan kepedulian terhadap sesama. Melalui film ini ia ingin menunjukan kepada penonton dunia, bahwa Islam yang terjadi di Indonesia itu adalah wajah Islam sebenarnya bukan teror, akan tetapi saling memahami, menerima dan mencintai sesama manusia.

Kegagalan dalam jumlah penonton difilm Mencari Hilal tidak membuat Ismail patah semangat, namun ia terus menghasilkan karyanya, apalagi sekarang ia sudah siap membuat film panjangnya yang ketiga berjudul Talak 3 dengan genre komedi romantis.

Di Tokyo International Film Festival 2015 selain Ismail hadir juga Hanung Bramantyo dan Ram Punjabi. Selain membawa film Mencari Hilal, Ismail juga akan membawa budaya Indonesia yaitu baju Batik sebagai identitas diri bangsa Indonesia.

Tokyo International Film Festival adalah ajang festival film bergengsi yang sudah hadir sejak tahun 1985 banyak film dari seluruh dunia ikut ambil bagian dan diputar, sedangkan untuk program Asian Future pertama kali diadakan tahun 2013 dikhususkan untuk kompetisi film panjang pertama dan kedua bagi sutradara-sutradara muda di Asia (termasuk Jepang dan Asia Tengah).

Tahun ini Tokyo International Film Festival 2015 diselenggarakan pada tanggal 22-31 Oktober 2015, untuk pemutaran pertamanya dibuka dengan film “The Walk” karya Robert Zemeckis (US) dengan pemain Joseph Gordon-Levitt, Ben Kingsley dan Charlotte Le Bon dan penutupnya “terminal” karya Tetsuo Shinohara (Jepang) dengan pemain Koichi Sato, Tsubasa Honda dan Machiko Ono.

Sebelum diikutkan keajang international film Mencari Hilal yang dibintangi Deddy Sutomo dan Oka Antara ini beberapa minggu yang lalu berhasil meraih prestasi diajang Festival Film Bandung 2015 dengan dinobatkannya Deddy Sutomo sebagai Pemeran Utama Pria Film Terpuji, dan bagi Hanung Bramantyo selaku produser film Mencari Hilal mengatakan, ia bangga film yang dibuat dengan jujur  dan disinilah tempat yang pas di Tokyo International Film Festival 2015.

(is)

Comments

comments