Galing Sa Puso, From The Heart dan Dari Hati

1

Tanpa memiliki keahlian dibidang perfilman, Natalia S Tjahja memberanikan diri membuat film dokumenter yang berjudul Galing Sa Puso. Film ini menceritakan perjalanan 100 hari paska meninggalnya anaknya Maria Monique, dalam tidurnya ia mendapatkan pesan dari Maria untuk memberikan bantuan sebanyak-banyak kepada anak-anak kurang mampu.

Film yang dibuat hanya dalam waktu 3 minggu saja tersebut mendapatkan sambutan antusias dari sebuah group perfilman terbesar di Filipina, yang mana seluruh masyarakat Filipina dibebaskan menonton gratis, gala premierenya akan berlangsung 29 September 2015 jam 10 pagi waktu Filipina.

Sementara itu di Indonesia sendiri sudah diadakan pemutaran khusus pada tanggal 7 Juli 2015 di Pusat Kebudayaan Francis Jakarta. Dalam press conference yang berlangsung pada hari sabtu (26/9) di Contempo FX Sudirman. “Banyak yang membantu hingga terwujudnya filmnya ini salah satunya sponsor, dari para nelayan, TKI luar negeri dan saya juga berterima kasih kepada rekan-rekan media yang mau membantu menyebarkan informasi positif mengenai film ini”.

Natalia sendiri tidak menyangka filmnya menjadi perbicangan dan ditayangkan diluar negeri, berawal hanya membuat untuk ditayangkan di Indonesia dengan durasi 20 menit, setelah sukses iapun mendapat tawaran untuk syuting di Filipina .

Para pemain Galing Sa Puso kebanyakan tidak terkenal, melainkan mereka adalah orang-orang yang nyata dikehidupan yang sebenarnya, seperti Rachel (penyandang tuna netra asal Indonesia), Mukhsin (anak penyandang cebral asal Indonesia), Juliete (pengemis dengan 2 anak mempunyai penyakit leukimia asal Filipina) dan Sylvia Masanque (seorang ibu tua yang miskin menderita 5 penyakit kronis asal Filipina). Selain di Indonesia dan Filipina rencananya film ini akan diputar di Singapura dan Beijing China.

Bagi Natalia semua proses syuting film dokumenter Galing Sa Puso berjalan apa adanya, tidak ada tim khusus yang ia bentuk, seperti saat syuting Rachel di tempat mobil Porche di Jakarta Indonesia dan Juliete dijalanan dekat tempat makan fast food di Filipina, awalnya ia tidak mendapatkan izin untuk proses syuting, namun dengan kegigihannya dan meyakinkan pemilik setempat bahwa syuting film ini tidak ada biaya dan ia ingin memberikan mimpi dan harapan kepada orang-orang yang tidak mampu, setelah melakukan negosiasi akhirnya pemilik tempat tersebut memberikan izin untuk syuting.

Maria Monique adalah anak dari Natalia yang meninggal tahun 2006, mempunyai pengalaman yang memperihatinkan saat menjalani perawatan di rumah sakit mount elizabeth Singapura, dimana ia mengalami kesulitan dalam membayar biaya rumah sakit, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sangat sulit, untungnya pihak rumah sakit memberikan keringanan pembayaran dengan diberikan kemudahan gratis membayar 1 Miliar.

Sayangnya Maria tidak bertahan hidup dipertengahan tahun 2006, dalam 6 bulan kemudian dan banyaknya bersimpati dan membantu saat Maria dirawat hingga tiada, di penghujung bulan Desember, Natalia mendirikan Yayasan Maria Monique. Yayasan Maria Monique tidal hanya memberikan fasilitas kepada anak-anak berkebutuhan khusus, namun juga anak-anak yang telantar.

Sementara itu Cindy Gozali creative director dari Contempo sendiri dalam memberikan dukungan terhadap Yayasan Maria Monique mulai terjalin ditahun 2014 karena mempunyai misi yang sama yaitu membantu anak-anak berkebutuhan khusus dan tidak mampu, dan ditahun 2015 ini kembali menjalin kerjasama dengan karya Natalia difilm terbarunya, dalam bentuk pemain film boleh memilih bebas busana yang ada digerai mereka.

Tidak hanya dalam bentuk bantuan itu saja, Cindy juga ikut ambil bagian didalam film dimana Cindy memberikan kesaksian bagaimana Natalia mengispirasinya untuk fokus kepada tujuan hidup. Selain itu untuk pemutara di Filipina para pemain Galing Sa Puso akan diberikan busana-busana terbaik Contempo yang akan mereka pakai diacara red carpet.

Natalia sendiri belum tahu film ini akan berakhir sampai kapan, karena baginya ia akan terus berkarya membuat film dokumenter dan ingin mengispirasi kepada orang banyak. Apalagi filmnya sempat ditawari sebuah perusahan film Amerika untuk dibuatkan dalam bentuk komersil, namun ia menolak, baginya ia ingin orang banyak menonton filmnya secara gratis dan pesan yang disampaikan film ini adalah memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang kurang beruntung.

(is)

Comments

comments