Terbuai Keindahan, Phang Sanny Sukses Bawa Tenun Sumba Ke Mancanegara

Phang-Sanny-Terbuai-Keindahan-Kain-Tenun-Sumba
Nama Phang Sanny seperti akan dikenal banyak orang sebagai desainer ready to wear yang khusus mengembangkan kain tenun Sumba.

Mengawali karier dengan membuat busana sederhana pesanan pelanggan, perlahan Phang Sanny mengembangkan sayapnya pada Wedding Gown yang sudah menjadi trademarknya sampai saat ini.

Wanita yang pernah mengenyam pendidikan sekolah mode selama 10 bulan di Susan Budihardjo pada 1997 ini mengakui kecintaannya pada kain tenun Sumba. Berawal saat tidak sengaja dirinya berlibur ke Sumba untuk melihat kuda, matanya malah tertuju pada kain tenun yang memiliki corak dan ragam yang berbeda dengan kain tenun didaerah lain.

Kain tenun Sumba banyak mempunyai motif-motif alam dan tanah, permainan warna-warna hitam, jingga, oranye, putih, abu-abu dan biru.

Ketertarikan itu akhirnya Ia tuangkan dalam pagelaran fashion show, Lucky Trend dan Terbuai 2019 dengan tema “Equilibre” (keseimbangan – keharmonisan), sebuah tema yang mengingatkan kita untuk selalu menjaga keseimbangan dan keharmonisan dalam segala hal.

Sebelum Phang Sanny hadir dalam sesi closing, tampil terlebih dahulu di sesi opening, desainer-desainer muda berbakat dari BINUS University & sekolah mode ESMOD Jakarta.

Acara yang berlangsung hari Selasa (19/2) di Royale Jakarta Golf Club, Halim Perdana Kusumah, Jakarta, makin seru dan meriah dengan kehadiran pecinta fashion dan buyer dari dalam dan luar negeri.

Ditanya apakah dengan menggunakan motif printing, akan mematikan usaha para penenun? Wanita yang tergabung di Indonesia Fashion Chamber ini, justru mengaku bahwa Ia ingin melestarikan dan membuat pengerajin tenun di Sumba semakin maju.

“Menurut saya itu tidak merugikan penenun sama sekali. Masalahnya, ada banyak orang yang ingin memakai tenun tapi terkendala harga bahwasanya kain tenun yang asli sangat berat (ukurannya) dan mahal. Melihat kejadian tersebut saya langsung meminta ijin kepada para pengerajin tenun di Sumba, bahwa saya boleh mengadopsi motifnya. Dan mengaplikasikannya kedalam helaian kain printing dengan motif yang sama tapi dalam jumlah terbatas. Banyak pembeli busana saya yang merasa kok stoknya ga banyak ya, padahal mereka suka dan mau beli lagi, tapi saya memproduksinya terbatas hanya satu motif, ada juga karena kehabisan mereka mau beli kainnya saja, menurut saya kain tenun Sumba yang saya buat memang ringan dan harganya tidak semahal yang asli, tapi bukan itu pointnya, saya justru menyarankan jika mereka suka dengan busana saya dan kehabisan untuk memilikinya, mereka bisa membeli kain tenun yang asli di Sumba, itulah cara saya untuk melestarikan kain tenun Sumba ke mancanegara dan memajukan usaha pengerajin asli di Sumba”

Banyaknya permintaan busana ready to wear di dalam dan luar negeri, membuat nama Phang Sanny mulai bergema ke mancanegara. Selain di Bali dan Jakarta karyanya juga tersedia diluar negeri seperti Amerika Serikat dan Spanyol.

Diakhir perbincangan, IP team penasaran dengan nama “Terbuai”.

“Itu adalah brand fashion saya untuk ready to wear khusus kain tenun Sumba, orang-orang akan terbuai dengan keindahan yang saya buat” ucap Phang Sanny dengan tersenyum.

Penulis : Irwansyah

Comments

comments