Tenun Gaya Untuk Idul Fitri, Sederhana Tapi Mahal

Tenun Gaya adalah sebuah brand fashion tanah air yang sudah 17 tahun berdiri. Wignyo Rahardi adalah sang pendiri, bermula akan kecintaanya pada kain nusantara, tahun 2000 beliau memuntuskan keluar dari tempat lama ia bekerja.

Karena kecintaan akan kain nusantara sebagai inspirasinya,Wignyo kemudian mendirikan Tenun Gaya, ia bekerja sama dengan beberapa pengerajin kain tenun dengan teknik Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) didaerah Sukabumi, Jawa Barat.

Berawal dari satu pengerajin, kini ada 100 pengerajin yang setia bekerjasama dengannya. Meski sudah sukses, Wignyo tidak pelit ilmu, ia membagikan ilmu kesetiap daerah yang ia kunjungi, mengajak pengerajin membuat motif kain dengan tehnik yang baru tapi tidak meninggalkan ATBM. Karena keiklasannya ia banyak diberikan kemudahan, seperti kesetiaan pengerajin bekerjasama dengannya.

Dari awal berdiri sampai sekarang, Tenun Gaya tetap komitment untuk mempertahankan ciri khasnya yaitu, “Apa Adanya” sederhana tapi mahal.

Berbeda dengan pengerajin pada umumnya, untuk menambah warna baru ditambahkanlah berbagai ornament payet, bordir dan batu permata, mengikuti gaya kekinian dan kesan modern.

Namun Tenun Gaya tetap bertahan dengan orisinalitas sebuah kain nusantara, ditangan Tenun Gaya kain tersebut dibuat menjadi cantik, anggun, sederhana, dan mahal.

Karena sederhana tapi mahal itulah membuat Tenun Gaya makin dikenal luas. Salah satunya dikenal sebagai pelopor “Kemeja Tenun SBY” presiden republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang dikenakan bersama keluarga besar, untuk acara Hari Raya Idul Fitri, sampai tahun 2016.

Beberapa kreasinya mendapatkan penghargaan baik tinggal nasional maupun international, seperti UNESCO Award of Exellence for Handicrafts in South East Asia and South Asia 2012 untuk produk selendang motif rang-ranh, Nusa Penida, Bali. World Craft Council Award of Exellence for Handicrafts in South East Asia and South Asia 2014 untuk produk selendang pengembangan motif Tabur Bintanh, Sumatera Barat dan motif Ulos Ragidup, Sumatera Utara.

Pernah juga mendapatkan penghargaan UPAKARTI kategori jasa pengabdian pada bidang usaha pengembangan industri tenun tahun 2014 dan One Village One Product (OVOP) bintang 4 dari Kementrian Perindustrian ditahun 2015.

Dibulan Mei 2017 Gaya mendapatkan respon positif saat mengelar fashion show di Jepang. Acara tersebut diselenggarakan oleh KBRI di Tokyo, Jepang atas dukungan Pemda Maluku Tenggara Barat dan INPEX, dengan memperkenalkan keindahan Tenun Tanimbar dengan motif Ulerati.

Bertepatan dengan bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1438H, Tenun Gaya mempersembahkan karya terbarunya dengan menghadirkan busana wanita dan pria, dengan berbagai warna cerah muda, namun tidak melupakan warna klasik hitam dan putih.

Dari motif kain nusantara sepeti Ulos, Songket, Batik, dan yang lainnya, tersedia dalam bentuk ready to wear, namun jika ingin memesan khusus dalam bentuk pesanan.

“Kami menerima pesanan (khusus) dan ready to wear, itu yang menjadi eksklusif ” jawab Wignyo

Acara tersebut diadakan, Selasa (23/5/2017) didaerah kawasan Menteng, Jakarta Pusat sekaligus soft grand lauching butik kedua, setelah sebelumnya ditahun 2007 Tenun Gaya membuka butik pertamanya dikawasan Cipete, Jakarta Selatan.

Penulis : Irwansyah

Comments

comments