Perhelatan Jakarta Fashion Week 2018 Resmi Ditutup

 

 

Event fashion tahunan, Jakarta Fashion Week 2018 (JFW 2018) resmi ditutup Jumat malam, 27 Oktober 2017. Event yang sudah berlangsung selama satu minggu sejak 21 Oktober 2017 ini membuat IP team yang datang meliput semalam kagum. Penutupan JFW 2018 menampilkan konsep ready to wear dari beberapa desainer dan clothing line kenamaan tanah air. Salah satunya Danjyo Hiyoji.

Label pakaian yang memiliki nama bernuansa Jepang ini bekerja sama dengan salah satu produsen mobile phone asal negeri tirai bambu. Dengan ciri khas cutting yang asimetris, Danjyo Hiyoji menampilkan busana ready to wear dengan gaya urban style dan koleksinya didominasi warna gelap seperti hitam dan navy blue.

Ada hal yang menarik dalam show Danjyo Hiyoji semalam, yaitu hadirnya aktris muda dan cantik Pevita Pearce serta anak dari musisi Maia Estianti dan Ahmad Dhani, Al Ghazali di atas panggung catwalk.

Selain penampilan para desainer tanah air, adapula penampilan koleksi dari Roggykei. Roggykei merupakan fashion brand dari negeri sakura, Jepang. Tepatnya berasal dari kota Osaka.

 

Acara semakin menarik dengan show penutup dari lima desainer mode kenamaan Indonesia yang tergabung dalam salah satu event JFW 2018, Dewi Fashion Knight. Acara ini merupakan bagian penting dalam event JFW dan didukung oleh majalah Dewi sebagai sponsor utama. Dalam acara penutup Dewi Fashion Knight menampilkan lima desainer yang berprestasi dianggap dan dirasa sanggup menafsirkan tema koleksi seperti Toton, Peggy Hartanto, Major Minor, Rani Hatta, dan Hian Tjen.

Kelima desainer menampilkan koleksi terbaru mereka dengan tema yang berbeda-beda. Toton misalnya. Nuansa urban dan modern punk sangat lekat dengan koleksinya yang ditampilkan malam tadi. Bahan denim dan lace dipadupadan menjadi satu. Dominasi warna putih, biru, dan navy blue mengesankan nuansa gaya berpakaian punk style pada akhir tahun 1970-an. Uniknya Toton mempersiapkan koleksinya ini dengan serba cepat. Ia menggunakan bahan-bahan sisa yang ada dan dijadikan busana baru. Nampak rapih dan sangat kekinian.

Tema yang berbeda ditampilkan oleh desainer Ari Seputra dan Inneke Margarethe dari Major Minor. Terinspirasi dari pelukis ternama Pablo Picasso dan Henri Matisse. Konsep ready to wear dengan cutting-an khas kimono dan blazer menjadi penanda sebuah modernisasi dan budaya yang tergabung dalam seni. Koleksi yang ditampilkan didominasi dengan warna hitam dan putih.

Selain itu Rani Hatta mendobrak gaya fashionista dengan konsep genderless fashion. Rani ingin desain pakaiannya bisa digunakan oleh siapa saja. Jaket hitam dengan ornamen tali laso pada lengan membuat siapa saja yang melihat akan tertarik. Model menampilkan koleksi busana modest wear dengan gaya street style yang unik dan didominasi warna silver dan hitam.

Beda lagi dengan Peggy Hartanto. Desainer yang namanya sudah mendunia ini menampilkan busana yang lebih feminin. Ini memang sudah karakter seorang Peggy. Peggy terinspirasi dari tragedi ledakan nuklir di Fukushima, Jepang. Ledakan yang terjadi akibat gempa bumi besar yang melanda wilayah itu menjadikan bencana besar dan mengakibatkan Fukushima menjadi kota mati yang ditinggalkan penghuninya akibat radiasi nuklir. Peggy mendapati seekor kupu-kupu yang tak lagi tumbuh proporsional. Siluet kupu-kupu tersebut yang ditampilkan dalam bentuk busana. Warna-warna yang dipilih pun masih bernuansa hitam, putih, navy blue, dan abu-abu. Desainer yang koleksinya pernah dikenakan penyanyi dunia Gwen Stephanie dan model papan atas dunia Gigi Hadid ini lebih banyak mengeksplor bahan wol pada koleksi terbarunya. Peggy mengaku untuk koleksi JFW 2018 ini bekerjasama dengan perusahaan produsen wol asal Jepang.

Dewi Fashion Knight by JFW 2018 ditutup manis oleh penampilan peragaan busana dari Hian Tjen. Desainer yang baru pertama kali mengikuti event Dewi Fashion Knight ini ingin mengedepankan gaya berpakaian wanita tahun 1960-an. Penonton malam itu serasa dibuat bergoyang dengan penampilan para model yang bergaya 60-an dengan diiringi musik disko era 60-an. Ini mengingatkan kita dengan film Austin Powers yang dibintangi Mike Myers. Palet warna hitam, emas, putih, dan hijau menjadi pilihan rancangannya. Konsep 60-an yang dikedepankan oleh seorang Hian Tjen sangat kuat. Mulai dari makeup, hairdo yang bergayar retro, hingga cuttingan dress dan jumpsuit yang ditampilkan. Pria yang pernah membuat gaun pengantin untuk Chelsea Olivia ini memang sangat visioner dan idealis. Terlihat dari semua detail koleksi busananya. Mengedepankan garis desain yang feminin namun seksi secara bersamaan, karya-karya Hian Tjen selalu berhasil mengundang pujian dan decak kagum. Reputasi Hian sebagai desainer berbakat juga mendapat pengakuan dari Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) yang digawangi sejumlah desainer kondang seperti Sebastian Gunawan, Barli Asmara, dan Era Soekamto. Pengakaun itu berupa terpilihnya Hian sebagai anggota baru IPMI. Bahkan IP sendiri melihat koleksi busana Hian cocok apabila dibawa ke pageant internasional.

Hian memulai segala sesuatunya dari nol. Sebelum terkenal, Hian yang berasal dari keluarga sederhana adalah seorang perantau yang ingin mewujudkan impiannya sebagai seorang desainer. Ia lahir dan besar di Pemangkat, sebuah kota kecil di Kalimantan Barat. Acara ini ditutup oleh ibu Svida Alijsahbana selaku ceo Femina Group.

Yuk intip video kemeriahan penutupan Jakarta Fashion Week 2018, dan klik linknya dibawah ini.

Penulis: Putra Zia
Foto/video: Irwansyah

Comments

comments