Press Conference Miss & Mrs. Inter – Nations Indonesia 2018-2019

Miss-&-Mrs-Inter-Nations-Indonesia-2018-2019

Satu lagi ajang kecantikan dunia diikuti oleh perwakilan Indonesia yaitu Miss & Mrs Inter – Nations 2018-2019 yang diadakan di Singapura. Dibawah naungan Bahmish yang berkedudukan di Singapura, ajang ini memiliki tagline “Global Empowered Women” yang mana bisa diikuti wanita muda dan sudah menikah, dengan advocacy, mempunyai motto mempromosikan wanita dari semua kalangan dan menjembatani mereka di skala global.

Dibawahi dua orang wanita karier dan juga pengusaha yaitu Udita Thadani & Simran Punjabi, press conference keikutsertaan Indonesia, Rabu, 10 Oktober 2018 bertempat di hotel JW Marriot Jakarta.

Miss-&-Mrs-Inter-Nations-Indonesia-2018-2019

Terpilih tiga wakil Indonesia, yang dipilih melalui audisi online, yang semuanya adalah warga keturunan India, untuk Miss yaitu Meha Sarahah (Mahasiswi berusia 19 tahun), Palak Bhansali (Miss India Indonesia 2015 berusia 25 tahun), dan untuk kategori Mrs yaitu Amita Sharma (1st runner up Mrs India Indonesia 2018 berusia 42 tahun).

Ketiganya mendapatkan banyak ilmu sebelum berangkat ke Singapura pada tanggal 17 Oktober, seperti pembekalan publik speaking, catwalk, kecantikan, dan kebugaran.

Miss-&-Mrs-Inter-Nations-Indonesia-2018-2019

Menggandeng desainer langganan beauty pageants yaitu Hengki Kawilarang yang membuatkan outfit selama karantina dan evening gown. Tak lupa yang paling ditunggu-tunggu adalah kemunculan national costume yang diperagakan oleh Meha, Palak dan Amita karya desainer Nabil Cartyn Carnival.

Meha Sarahah membawa national costume “Titik Nol Indonesia, Wonderfull Sabang”. Kostum dengan berat 10 kilogram ini terinspirasi dari keanekaragamaan budaya dan alam yang terdapat titik nol Indonesia yaitu pulau Sabang, Aceh. Bagian sayap menceritakan kehidupan bawah laut Sabang. Bagian headpiece merupakan kilometer nol Indonesia. Bagian kostum merupakan kain khas traditional Sabang, dan bagian bawah rok merupakan visualisasi dari tingkatan warna air laut sabang dan uniknya ada semburan gelombang laut yang berada dibagian headpiece disisi kanan dan kiri. Dengan adanya kostum ini dapat memberikan informasi mengenal titik nol Indonesia bagian barat dan mengajak yang melihat untuk berkunjung ke Pulau Sabang ,Feel Harmony The Extraordinary Wonderfull Indonesia”.

Miss-&-Mrs-Inter-Nations-Indonesia-2018-2019

Sedangkan Palak Bhansali membawa national costume “Ratu Safiatuddin, Queen of Women’s Emancipation”. Kostum yang juga memiliki berat 10 kilogram ini terinspirasi dari sosok Ratu yang menjabat pada pertengahan abad ke-17 Masehi yang bernama lengkap Sultanah Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat (1641-1675M). Ia merupakan sosok Ratu yang pantang menyerah dan pejuang dalam segala bidang pemerintahan. Pada saat Ratu Safiatuddin memerintah kerajaan Aceh Darussalam, ia memperlakukan kedudukan perempuan disetarakan dengan laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bahkan dalam Qanun Meukuta Alam membolehkan perempuan menduduki segala jabatan dalam lembaga negara, temasuk Majelis Mahkamah Rakyat (parlemen). Pada masa kepemimpinan Ratu Safiatuddin ditemukan galian emas pada sejumlah gunung dengan hasil melimpah. Sehingga membuat kerajaan Aceh kaya raya dan makmur karena begitu banyak emas yang dimilikinya.

Pada kain berwarna pink melambangkan kewanitaan dan warna gold melambangkan kejayaan dan kekuatan. Sedangkan pada bagian sayap dengan ukiran Aceh membentuk gerbang Taman Ratu Safiatuddin. Harapan dari national costume ini, kini saatnya perempuan Indonesia mengambil contoh dari kepemimpinan Ratu Safiatuddin, yang telah berhasil membangun kepemimpinan di Aceh sehingga mendunia dan terjaga sampai saat ini.

National costume yang ketiga ditampilkan oleh Amita Sharma “Bandung Lautan Api” dengan berat 8 kilogram. Terinspirasi dari Bandung Lautan Api yang merupakan sejarah miliki rakyat Bandung yang akan selalu dikenang sebagai aksi patriotik warga Bandung dalam mempertahankan tanah airnya. Tanggal 24 Maret 1946 momentum rakyat bersatu mencegah sekutu dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administraton) yang menduduki Bandung. Warga Kota Bandung rela mengorbankan harta benda, jiwa dan raga untuk Indonesia. Penduduk kota berjuluk Parijs Van Java mengikhlaskan tempat tinggal mereka dibumihanguskan agar tak dikuasai penjajah Belanda. Istilah Bandung Lautan Api muncul pada saat Komandan Polisi Militer di Bandung bernama Rukana sedang berbincang dengan A.H. Nasution dan Sutan Syahir. Dari perbincangan mereka bertiga, muncul gagasan dari Rukana “Mari kita bikin Bandung Selatan jadi lautan api”.

Inspirasi national costume ini pada bagian dada terdapat miniature kobaran api, di bagian headpiece terdapat kobaran api yang di bantu oleh kipas angin portable dan lampu LED sehingga terasa nyata dalam memvisualisasikan kobaran api. Pada bagian rok belakang terdapat gambaran Monumen Bandung Lautan Api, untuk mengingatkan kita atas kejadian heroik rakyat Bandung.

Saat IP team bertanya apa target Indonesia di Miss & Mrs. Inter – Nations 2018-2019 kepada Udita Thadani & Simran Punjabi, keduanya menjawab dengan sangat meyakinkan.

“Target kami adalah juara utama dan juara national costume. Mohon doa restunya kepada seluruh masyarakat Indonesia, semoga kami bisa membanggakan Indonesia”.

Penulis : Irwansyah
Editor: Aditiya Yasmin

Comments

comments